NewSticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Snouck Horgronje, Pura-pura Masuk Islam Agar Belanda Menang Perang Melawan Rakyat Aceh

Snouck Horgronje menyambut Pangeran Saud di Leiden University, 1936. Sumber foto: Wikimedia Commons
Menguasai bahasa Aceh, Melayu, Jawa, Arab, Inggris, dan tentu saja juga Belanda.

Itulah Snouck Horgronje, seorang Orientalist Belanda yang lahir di abad ke 19 dan meninggal di abad ke 20. Snouck yang mendapat nama Islam; H. Abdul Gaffar, adalah orang Belanda yang berpura-pura masuk Islam untuk negaranya agar bisa memenangkan perang antara rakyat Aceh dengan Kolonial Belanda.

Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Pebruari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg. Dengan berpura-pura masuk Islam, maka ia bisa bebas berada di Mekah, kota suci yang terlarang bagi Non Islam. Dan ia pun sempat berguru ke sejumlah Ulama diantaranya kepada Habib Abdoerahman Az-Zahir, ulama Mekkah yang pernah pergi ke Aceh.

Sebagai penasihat Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913). Ia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka (wikipedia).

Snouck Horgronje atau H. Abdul Gaffar sukses menjadikan Kolonial Belanda menghentikan perang dengan rakyat Aceh dengan taktik memisahkan rakyat (umat Islam, Red) dengan para Ulama, karena Ulama di Aceh lebih dipatuhi dan ditaati daripada Sultan. Taktik Snouck ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari politik adu domba devide et impera Kolonial Belanda. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar